NAEEM | Aceh Selatan – Kondisi minimnya stok darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan kembali menjadi sorotan. Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa, mengungkapkan rasa kecewa dan kegeramannya atas belum terpenuhinya kebutuhan darah bagi pasien yang sedang berjuang mempertahankan hidup.

Menurut Gusmawi, masih adanya pasien dengan kadar hemoglobin (HB) hanya yang rendah telah dua hari belum mendapatkan transfusi darah merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

“Siapapun yang memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan jangan hanya diam, jangan tidur, apalagi sampai ‘ngorok’. Di ruang perawatan ada pasien yang sedang berpacu dengan waktu untuk mempertahankan hidupnya,” tegas Gusmawi.

Ia mengatakan, setiap menit keterlambatan memperoleh darah dapat memperburuk kondisi pasien. Bagi keluarga pasien, penantian tersebut menjadi saat-saat yang penuh kecemasan, harapan, dan doa yang tidak pernah putus.

“Bayangkan jika yang terbaring itu adalah orang tua kita, pasangan kita, anak kita, atau saudara kandung kita. Tentu kita berharap ada yang segera bergerak membantu. Darah bukan sekadar cairan tubuh, tetapi harapan hidup bagi mereka yang sedang berjuang,” ujarnya.

Gusmawi menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan darah bukan hanya menjadi tanggung jawab para relawan donor darah semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur yang memiliki kewenangan, mulai dari instansi terkait, rumah sakit, Unit Transfusi Darah, hingga seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam sistem pelayanan kesehatan.

Ia juga mengajak masyarakat yang memenuhi syarat untuk mendonorkan darah secara sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Setetes darah yang kita sumbangkan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi pasien yang sedang menunggu transfusi, darah itu bisa menjadi alasan mereka tetap bernapas, tetap tersenyum, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.”

BFLF Aceh Selatan berharap persoalan ketersediaan darah di Aceh Selatan dapat segera memperoleh perhatian serius sehingga tidak ada lagi pasien yang harus menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan hak dasarnya dalam pelayanan kesehatan.

“Jangan biarkan ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai hanya karena darah yang dibutuhkan tidak kunjung tersedia. Saatnya semua pihak bergerak, karena setiap tetes darah adalah kehidupan, dan setiap kehidupan sangat berharga,” tutup Gusmawi, dalam rilisnya kepada awak media, Jumat, 26 Juni 2026.