NAEEM | Banda Aceh, 6 Oktober 2026 — Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menjadi narasumber dalam kuliah umum Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Selasa (6/10/2026).
Bertempat di Aula FISIP USK, kuliah umum yang diikuti sekitar 90 mahasiswa tersebut mengangkat tema “Hubungan Internasional dalam Memandang Dunia: Perspektif Idealisme, Realisme, Neorealisme, dan Konstruktivisme dalam Program P4GN BNN.”
Dalam pemaparannya, Dedy Tabrani mengajak mahasiswa melihat persoalan narkotika tidak hanya sebagai persoalan kriminalitas dan kesehatan, tetapi juga sebagai isu keamanan nasional dan kejahatan lintas negara (transnational organized crime) yang membutuhkan kerja sama antarnegara.
Menurutnya, perkembangan jaringan peredaran gelap narkotika yang melintasi batas negara menuntut adanya pendekatan yang komprehensif, mulai dari penguatan penegakan hukum, pengawasan perbatasan, pertukaran informasi dan intelijen, hingga kerja sama internasional.
“Persoalan narkotika tidak mengenal batas negara. Karena itu, penanganannya juga tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja. Diperlukan kerja sama, pertukaran informasi, penguatan kapasitas, dan komitmen bersama,” ujar Dedy.
Ia menjelaskan, perspektif Realisme dan Neorealisme dapat digunakan untuk memahami narkotika sebagai salah satu ancaman terhadap keamanan nasional. Dalam konteks tersebut, negara memiliki kepentingan untuk memperkuat kapasitasnya dalam menjaga wilayah, mengendalikan perbatasan, serta memutus jaringan peredaran gelap narkotika.
Sementara perspektif Idealisme menempatkan kerja sama dan institusi internasional sebagai instrumen penting dalam menghadapi ancaman narkotika yang bersifat lintas negara.
Adapun pendekatan Konstruktivisme, menurut Dedy, memberikan perspektif bahwa perang melawan narkoba juga membutuhkan perubahan norma dan perilaku masyarakat.
“P4GN bukan hanya tentang menangkap pelaku. Kita juga harus membangun norma sosial bahwa narkoba adalah ancaman bersama, memperkuat ketahanan masyarakat, melakukan pencegahan, pemberdayaan, dan memastikan penyalahguna mendapatkan rehabilitasi,” jelasnya.
Dedy juga menekankan pentingnya peran generasi muda, khususnya mahasiswa Hubungan Internasional, dalam memahami isu narkotika sebagai bagian dari dinamika keamanan global.
Mahasiswa, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk melihat persoalan narkotika dari berbagai perspektif dan turut membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya narkoba.
Kuliah umum berlangsung interaktif. Para mahasiswa aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait perkembangan kejahatan narkotika lintas negara, keamanan perbatasan, kerja sama internasional, serta strategi Indonesia dalam menghadapi ancaman narkotika.
Melalui kegiatan tersebut, BNNP Aceh dan FISIP USK berkomitmen memperkuat sinergi antara institusi pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang kritis, memiliki wawasan global, serta mampu berkontribusi dalam membangun lingkungan pendidikan dan masyarakat yang Bersih dari Narkoba (Bersinar).
PRESS REALEASE
War on Drugs for Humanity.